Anak Bisa Jadi Influencer Berkat Dongeng

Resume ke   : 1
Tanggal        : 31 Januari 2022
Tema            : Pendidikan
Narasumber : Kurniawan Adi Santoso 






Kita bersyukur dilahirkan di Indonesia. Kaya ragam dongengnya. Hampir di tiap provinsi di tanah air punya dongeng yang bisa kita nikmati kisahnya. Dan biasanya di akhir cerita kita bisa memetik pelajaran yang terkandung di dongeng.


Keragaman dongeng di Nusantara menguntungkan orang tua. Mereka dengan mudah bisa memilih dongeng untuk dijadikan metode mendidik anak. Berbagai penelitian sudah membuktikan metode dongeng mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif pada anak-anak. Lantas, sudahkah mendongeng untuk anak menjadi rutinitas orang tua?


Tidak sedikit orang tua cenderung abai terhadap peran dongeng yang sebenarnya bisa dijadikan sarana pendidikan itu. Tidak banyak orang tua yang telaten membacakan dongeng untuk anaknya. Mereka siangnya sibuk bekerja, terus malamnya sudah capek sehingga tak ada waktu lagi mendongeng buat anak. Ada juga orang tua kadang-kadang mendongeng, tetapi bingung memilih dongeng. Mereka mengaku tidak banyak buku dongeng yang dibeli. Ketika buku dongeng yang dipunya sudah selesai dibacakan untuk anaknya, ya berakhir juga kegiatan mendongeng.


Masalah lagi datang ketika ditinggal orang tua bekerja, si anak malah diperbolehkan bermain gawai. Dari gawai, anak-anak kemudian kenal dengan permainan digital. Lalu asyik keterusan bermain game online. Pun memindahkan layar televisinya ke gawai dengan menonton kartun di YouTube. Ini yang kemudian membuat anak-anak kurang meminati dongeng.


Bahkan saya sempat melakukan survei sederhana. Saya bertanya kepada anak-anak usia SD di lingkungan saya dengan pertanyaan: Pernahkah mendengar dongeng, seperti Bawang Merah dan Bawang Putih, Si Kancil, atau Malin Kundang? Mereka menggelengkan kepala, tanda tidak pernah mendengar. Kalau mendengar saja tidak pernah, apalagi membaca dongeng. Jadi, boleh dikatakan anak-anak zaman now menjadi terasing dengan dongeng.


Maka dari itu, orang tua hendaklah mau mendongeng demi pendidikan buah hatinya. Anak-anak butuh asupan gizi moral dari dongeng. Kegiatan mendongeng dapat dilakukan sebagai pengantar sebelum anak tidur. Penanaman moral lewat mendongeng menjelang tidur akan terekam dan terinternalisasi sebanyak 75 persen (Majalah Anakku, Edisi 3/2008).


Orang tua tak perlu bingung memilih dongeng. Kini dongeng sajiannya lebih menarik sebab dongeng bisa bertransformasi lebih mudah di dunia digital. Dongeng hadir melalui situs. Di Indonesia, salah satu situs cerita rakyat yang punya cukup banyak koleksi adalah Cerita Rakyat Nusantara yang menghadirkan cerita rakyat dari Aceh hingga Papua Barat.


Dongeng hadir dalam bentuk lain: audio dan visual. Buku dongeng anak yang dahulu tak jarang hanya mengandalkan teks, kini bisa berkelindan dengan gambar dan suara. Di YouTube, ada akun dongeng seperti Indonesian Fairy Tales (punya 557.905 pengikut) yang menghadirkan aneka macam dongeng dalam bentuk video. Isinya merentang dari dongeng Nusantara hingga dongeng dari luar negeri macam Sinbad.


Dongeng juga sudah tersedia dalam bentuk aplikasi di gawai. Banyak aplikasi dongeng yang dengan mudah diunduh secara gratis melalui Appstore, Google Play, dan Windows Store pada gawai kita. Di aplikasi tersebut, selain berbentuk e-book, juga dilengkapi fitur seperti suara hingga pergerakan animasi. Dengan demikian, dongeng digital mampu memberikan pengalaman atau sensasi baru saat orang tua dan anak melakukan kegiatan mendongeng di era modern ini.







Komentar